Sekarang, Jakarta punya taman baru, sebagai implementasi kebijakan Gubernur Bang Foke untuk memperbanyak Ruang Terbuka Hijau (RTH). Dulunya, banyak yang kontra dengan rencana pembuatan taman ini, karena harus menggusur/merelokasi para pedagang bunga dan ikan hias yang sudah berjualan sejak 1970-an. Tidak manusiawi. Padahal, Pemprov sudah menyediakan lokasi pengganti di daerah Radio Dalam.

Tetapi, peraturan harus tetap ditegakkan. Kepentingan publik harus lebih diutamakan daripada kepentingan sekelompok orang (baca: pedagang). RTH adalah RTH, bukan tempat berusaha. Ia bertugas sebagai paru-paru kota yang berfungi selain sebagai tempat resapan air, bernilai keindahan, juga dapat menjadi tempat olahraga dan rekreasi yang murah meriah. Pantaslah warga Jakarta angkat topi kepada Bang Foke untuk yang satu ini, sebagaimana dahulu kita angkat topi untuk Bang Yos yang gigih melawan Menpora untuk dapat menggusur Stadion Menteng (kandang klub sepakbola Persija “Macan Kemayoran” Jakarta) dan menyulapnya menjadi Taman Menteng.

Sekarang, taman cantik ini sudah bisa dinikmati. Datanglah sore-sore, untuk melepas penat setelah menempuh kemacetan sore hari dan menikmati indahnya Situ Barito dengan dua titik air mancur yang menyembur-nyembur ke angkasa. Atau, pagi hari kala akhir pekan, untuk menghirup segarnya udara di sana, sambil membawa keluarga. Mereka yang punya jiwa seni pun bisa menggunakan amphitheatre yang ada untuk memperlihatkan kebolehannya kepada khalayak ramai. Dan, …psst….! bisa juga sih, jadi tempat untuk berasyik masyuk bagi yang sedang dimabuk asmara .

O ya, resminya taman ini bernama Taman Ayodhya. Dari Bundaran Mahakam turun ke bawah, persis sesudah Hotel Grand Mahakam dan Apotek. Kalau dari Mayestik belok kanan sampai perempatan Barito.

sumber : http://www.voltras.net