Harga Sebuah Prinsip

Kehidupan sebagai wakil presiden tidaklah semudah yang diperkirakan, namun Bung Hatta tak pernah menyesalinya. Pensiunnya tidak mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari sehingga ia harus menambah penghasilan dari hasil menulis buku dan mengajar. Namun tidak sekalipun ia mengeluh. Ia tetap tabah dan keras hati, tetap pada keputusannya, sampai pada akhir hidupnya.

Adanya prinsip yang keras dan tidak mau kompromi dengan apapun yang tidak disetujuinya, walaupun menyebabkan hidup menderita, menyebabkan orang banyak respek kepada Bung Hatta. Ini terbukti dari banyaknya undangan yang diterima dari luar negeri untuk Bung Hatta.

Salah satu adalah kunjungan ke RRC pada tahun 1957, di mana Bung Hatta disertai sejumlah anggota rombongan, memenuhi undangan dari pemerintah RRC. Rakyat Cina masih menganggap Bung Hatta sebagai “a great son of his country“. Terbukti dari penyambutan yang seharusnya diberikan kepada seorang kepala negara, di mana Perdana Menteri Chou En Lai sendiri menyambut Bung Hatta yang bukan lagi seorang wakil presiden. Selain itu, beribu-ribu rakyat RRC menyambut di lapangan terbang Peking bersama PM Chou En Lai itu. Padahal mereka tahu, Bung Hatta sejak semula tidak setuju dan menolak prinsip-prinsip PKI di negara Indonesia.

Dalam kunjungan ke RRC, negara yang berideologi komunis dan mempunyai kebudayaan yang khusus ini, suami saya diajak serta oleh Bung Hatta. Di sini tampak besarnya perhatian Nak Hatta kepada ayah mertuanya. Ke negara lain suami saya bisa pergi sendiri, tetapi ke RRC belum tentu dapat pergi sendiri karena aturan-aturan yang berlaku di sana. Oleh karena itu dibawanya ayah mertuanya dalam rombongan.

Bunga Karno juga masih tetap respek kepada kawan lamanya, walaupun perselisihan tampak agak nyata setelah menantu saya meletakkan jabatannya. Pada tahun 1963, ketika Soekarno sedang berada di puncak kekuasannya, Bung Hatta jatuh sakit dan perlu mendapat perawatan di Swedia karena perlengkapan medis di sana lebih baik (lengkap). Bung Karno menyetujui keberangkatan Bung Hatta ke luar negeri dengan didampingi oleh Staf Dokter Istana, Prof. Mahar Mardjono, yang sejak itu lama menjadi dokter pribadi Bung Hatta. Kepergian ini atas biaya Pemerintah.

Kemauan Hatta untuk sembuh demi anak istri sangat besar. Ia tekun menuruti nasehat dokter, sehingga penyakitnya dapat diatasi. Empat tahun sesudah perjalanan berobat ke Swedia ini, sekali lagi Bung Hatta kembali ke sana.

Para dokter Swedia tercengang karena Hatta masih dapat mempertahankan hidupnya. Mereka mengira dengan penyakit semacam itu, Hatta telah meninggal dunia. Demikianlah perjuangannya yang tidak kenal putus asa untuk mempertahankan hidupnya. Malahan dalam kunjungan ke Swedia kali itu, ia juga sempat diundang meninjau perkembangan usaha perkoperasian di Swedia.

Ny. H.S.S.A. Rachim, Pribadi Manusia Hatta, Seri  1, Yayasan Hatta, Juli 2002