Saat terbahagia bagi para pecinta adalah saat cinta mereka bertaut dalam sebuah janji suci pernikahan, dimana keduanya saling berjanji sehidup semati, melewati suka dan duka bersama, dan membesarkan anak-anak titipan Tuhan dengan penuh cinta, aku sendiri sangat suka dengan melihat moment tersebut.

Rona bahagia terpancar di wajah kedua mempelai saat cinta mereka benar-benar telah dipersatukan dihadapan Tuhan dan di hadapan para saksi yang menghadiri upacara pernikahan mereka.
Taburan bunga, tari-tarian indah dan lagu-lagu cinta membahana mengiringi bertautnya dua hati.

Upacara pernikahan, pesta pernikahan memang selalu memiliki keindahannya, karena bertaburan para undangan, makanan enak, pertunjukkan seni, gaun indah, dll. Tapi apakah menikah hanya sebatas itu saja…????

Jelas tidak, menikah adalah komitmen, pesta pernikahan hanya sebuah siluet dalam pernikahan yang sebenarnya, maksudku, tanpa pesta pernikahan menikah tetaplah menikah, yang terpenting adalah upacara sakral pernikahan.

Dan dalam sebuah pernikahan, “saling” itu adalah hal yang mutlak dan harus karena ada dua kepribadian yang berbeda yang baru mencoba untuk saling berdampingan, kenapa gw katakan baru mencoba, itu karena masa pacaran dan masa dalam pernikahan jelas berbeda, karena tiap individu baru saling mengetahui yang sebenar-benarnya adalah justru setelah menikah, sedangkan selama pacaran bisa saja yang diperlihatkan adalah semua yang baik-baik saja (ada istilah selama pacaran buka mata lebar-lebar kalo sudah menikah tutup mata rapat-rapat).

Intinya setiap fase (tahapan) kehidupan manusia pasti ada suka dukanya, tinggal bagaimana kita menjalaninya dengan baik dan penuh pemikiran matang, dan jangan membandingkan satu fase dengan fase yang lainnya karena memang berbeda dan tidak bisa dibandingkan.